Penipuan melalui pesan teks (SMS) atau chat yang menyamar sebagai Google kembali heboh. Pelaku menggunakan trik kata-kata yang membuat penerima pesan percaya bahwa pesan tersebut sah. KompasTekno mengingatkan agar masyarakat segera menghapus pesan berisi kata-kata tertentu agar tidak menjadi korban scam.
Daftar Isi:
Modus Penipuan & Ciri Pesan Palsu
Berikut beberapa pola atau frase yang sering digunakan pelaku saat berpura-pura sebagai Google:
- “Akun Anda akan ditangguhkan jika tidak diverifikasi”
- “Masukkan kode verifikasi ini untuk melanjutkan”
- “Kami mendeteksi aktivitas mencurigakan di akun Anda, klik tautan berikut”
- “Anda berhak atas pengembalian dana / voucher voucher Google”
- “Login ulang melalui link berikut agar layanan tetap aktif”
Pelaku biasanya menyisipkan tautan phishing, meminta kode OTP, meminta data pribadi seperti username, password, NIK, atau token otentikasi.
Ciri khas lainnya:
- Tautan tidak mengarah ke domain resmi Google (contoh: google.com)
- Pesan menggunakan bahasa yang mendesak (“segera”, “dalam 24 jam”)
- Kesalahan ejaan kecil atau tata bahasa tidak wajar
- Ia meminta kode OTP / kode verifikasi dan klaim kode tersebut penting untuk keamanan akun
Langkah Segera yang Harus Dilakukan jika Menerima Pesan Seperti Itu
- Jangan klik tautan apapun
Meski tampak meyakinkan, tautan tersebut sangat mungkin memuat phishing atau malware. - Jangan kirim kode OTP atau data penting
OTP, kata sandi, data KTP, atau info personal adalah “senjata” scammer. - Hapus pesan tersebut
Agar tidak tergoda mengklik di masa mendatang atau salah forward ke orang lain. - Blokir nomor pengirim
Agar tidak lagi menerima pesan dari nomor tersebut. - Periksa aktivitas akun Google / keamanan
Buka akun Google -> menu Security / Keamanan -> cek aktivitas terakhir, cek login perangkat asing, ubah password bila perlu. - Aktifkan verifikasi dua langkah (2FA / 2-Step Verification)
Supaya meski seseorang punya password, mereka tetap butuh kode tambahan untuk login.
Kenapa Pesan Scam Ini Efektif?
- Sebutan “Google” membuat orang cenderung percaya — karena Google dikenal sebagai perusahaan besar & dipercaya.
- Rasa takut kehilangan akses akun atau denda membuat orang tergesa-gesa merespon.
- Banyak orang belum memahami metode phishing sehingga mudah tergoda ke tautan palsu.















